Diculik Alien – Bagian 4

Sebelumnya, Bagian 3

“Lokasi, Munich. Tahun, 1894. Bulan, November. Tanggal, 27. Pukul, 01.45 pagi. Subjek, Albert Einstein.” Samar-samar suara tersebut terdengar, pe

rasaan dejavu pun melingkupi kepalanya saat dia mencoba membuka mata di bawah sinar yang begitu terang.

“Dimana aku?” katanya mencoba membuka mulut. Albert mencoba membuka matanya walaupun dia yakin pandangannya akan seburam terakhir kali dia mengalami hal tersebut.

Tiba-tiba dia merasakan sesuatu mengalir didalam tangannya, sesuatu yang dingin dan membuat dirinya terasa nyaman. Dia kembali mencoba membuka mata, dan melihat beberapa sosok sedang terlihat sibuk disampingnya.

“Apa yang ka-lian la-kukan?” dia bisa mendengar mereka menjawab, namun tidak mengerti apa yang mereka katakan.

“Tenanglah nak, ini hanya sementara.” Tiba-tiba sebuah tangan lembut menyentuh pipnya.

Dia bisa berbahasa Jerman? pikir Albert. Kemudian ingatannya kembali berputar pada saat sebelum dia terjatuh pingsan. Seseorang memanggil namanya. Dia akhirnya yakin mereka mengerti apa yang dia katakan. “Apa yang kalian lakukan?” tanyanya terbata-bata.

“Kami akan membebaskanmu sebentar lagi.”

Dari suaranya, tampak pada Albert dia adalah seorang wanita. Kemudian Albert memaksakan penglihatannya dan sesuatu yang sempat dilupakannya terjadi. Sebuah bunyi di dalam kepalanya terdengar.

“Apa itu?” Dia mencoba berbicara

“Itu hanya alat pemindai. kita ingin mengecek keadaanmu, apakah kamu sudah siap atau belum.”

“Siap untuk apa?”

“Untuk menerima nasibmu.”

Albert tampak bingung dengan jawaban tadi, dan tak lama kemudian sandaran tempat tidurnya terangkat sehingga lama-kelamaan posisinya menjadi duduk. Dan anehnya, pandangannya kini semakin lama semakin jelas, dia pun akhirnya bisa melihat semua makhluk yang berlalu-lalang di sekitarnya. Dan saat semuanya menjadi, sosok yang dari tadi tengah berbicara dengannya tampak jelas kini. Walaupun pakaian dan pernak-pernik yang dia kenakan agak asing bagi Albert, tapi dia yakin seratus persen bahwa yang duduk di hadapannya adalah seorang manusia, yang juga seorang wanita.

Dengan segera Albert berusaha untuk melihat sekitarnya, namun kepalanya sama sekali tak bisa digerakan walaupun sepertinya kepalanya tidak diikat atau sebagainya.

“Kami sedang memasang pemindai di kepalamu, tolong jangan bergerak, atau itu akan menjadi sakit.” Kata sang wanita itu.

Albert terdiam dia mengedip-ngedipkan matanya, lalu berusaha melihat isi ruangan tersebut yang berwarna putih dan tak bersudut.

“Apakah kalian alien?” katanya dengan ragu-ragu dan kembali menatap sekitarnya tanpa bisa menggerakan kepalanya. “Di mana ini? Apakah ini planet kalian?”

Sang wanita tersenyum. “Sudah kuduga.” katanya. “Kamu berada di Bumi, dan kami adalah makhluk Bumi,” sambungnya santai setelah berdiri dari kursinya.

Wanita itu bernama Uriel, seorang yg agak kurus dengan mantel putih panjang serta menggunakan sejenis kacamata di kepalanya. Setelah berada berada begitu dekat dengan Albert, Uriel kemudian mendekatkan wajahnya, sehingga Albert bisa melihat jelas tekstur kulit pipinya yang kurus.

“Pengaruh bius pertama sudah hilang, jadi kamu sudah bisa melihat dengan jelas sekarang?” Katanya.

Albert tahu yg seharusnya dia lakukan apabila terjadi penculikan seperti itu adalah meronta dan memohon untuk dilepaskan. Namun perasaannya kini sangat tenang, seperti perasaan yang dia miliki ketika berjemur dibawah matahari musim semi yang hangat.

Kemudian Albert hanya menjawab, “Ya.” dengan tenang.

Tiba-tiba saja, sesosok bayangan melintas di belakang Uriel dan menghilang begitu saja.

“Apa itu?” Teriak Albert seketika.

Uriel memalingkan wajahnya dan tersenyim tipis pada Albert yang tampak kaget. “Seseorang yang menangkapmu. Mereka memiliki tugas yang berat malam ini.” Kemudian dia tertawa kecil. “Ayahmu mengacau ketika kami menemui rumahmu beberapa jam yang lalu.”

Mendengar hal tersebut tiba-tiba saja Albert meronta. “Apa yang kau lakukan pada keluargaku?” katanya panik.

“Tenang,” jawab Uriel, “Baiklah, perkenalkan namaku Uriel dari Badan Ruang & Waktu Dunia. Dan kami bekerja untuk memastikan eksistensi masa depan dunia dan manusia.”

Albert tampak bingung dan tak mengerti apa yang baru saja diutarakan wanita di depannya ini.

“Kami berasal dari masa depan.” katanya singkat dan cepat, sehingga Albert agak sulit mencerna pernyataan wanita tersebut.

“Maaf?” Tanya Albert sambil menajamkan pendengarannya kali ini. Menurutnya wanita ini baru saja mengatkan bahwa dia berasal dari masa depan, dan hal itu benar-benar konyol pikir Albert.

“Kami berasal dari tahun 2731, dan sebenarnya kamu sedang berada di tahun tersebut.”

Mata Albert terbelalak sangat lebar, jantungnya tiba-tiba berdegub begitu kencang dan nafasnya semakin cepat, sedetik kemudian berusaha menenangkan dirinya sebelum dirinya benar-benar pingsan.

“Kalian pasti bercanda.” katanya sanbil tersenyum ragu.

“Tidak.” jawab Uriel, lalu dia seperti menekan sesuatu yang berbunyi di udara, dan kursi yang diduduki Albert tiba-tiba saja berputar di dalam ruangan bulat tersebut.

Albert pun disambut dengan pemandangan menakjubkan beberapa orang berpakaian putih dan hitam didepannya yang sedang duduk di atas kursi yang melayang di balik kaca.

Ketika memperhatikan ruangan berbentuk bola yang serupa dengan ruangan yang dia tempati kini, dia pun bertanya pada Uriel untuk apa ruangan itu.

“Ini adalah ruangan operasi. Bukan operasi betulan, kami hanya akan memeriksa perkembangan seseorang yang kami bawa dari masa lalu.” jawabnya

Mendengar itu, Albert kemudian memperhatikan kursi terbang yang berlalu lalang di bagian luar ruangan bolanya dan pakaian serta aksesoris aneh yang mereka gunakan.

“Lalu apa yang bisa membuktikan bahwa aku berada di masa depan?” Albert bersikeras berusaha selogis mungkin dan belum bisa menerima konsep perjalanan waktu ini.

“Kamu lihat bola yang sana,” kata Uriel sambil menunjuk sebuah bola yang tampak penuh isinya, di seberang ruangan.

“Ya.” kata Albert yang akhirnya bisa memfokuskan pandangannya seutuhnya.

“Kamu lihat anak kecil yang sedang dipegang di atas kursi itu?” tanya Uriel.

Seakan tak percaya, Albert berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilihatnya adalah kekeliruan.

“Itu…” bisiknya pelan, bahkan tak terdengar oleh Uriel.

Uriel mengangguk kecil tanpa mendengar jawban Albert yang ditunggunya, “Dan disebelah sana!” Katanya sambil menunjukkan ruangan berbentuk bola yang lain. “Lihat dibalik kacanya.”

Kini, ekspresi yang ditunjukan Albert berbeda dengan apa yang dilihatnya sebelummya, dia sangat yakin mengenal pria yang terikat di atas kursi di dalamnya. “Ayaaahhh…” teriaknya. Namun kaca yang menghalanginya dari ruangan lebar didepannya sepertinya meredam seluruh suaranya secara ajaib, sehingga tak ada yang terpengaruh dengan teriakkannya itu. Orang-orang berbaju putih dan hitam tetap berlalu lalang seperti tidak terjadi apa-apa, dan Ayahnya yang terkurung di dalam ruangan yang mirip dengannya pun tak menunjukkan reaksi apapun.

“Tenang, Ayahmu baik-baik saja.” kata Uriel. Kemudian terdengar suara tangisan yang agak tertahan di depannya. “Albert? apakah kau menangis?” tanyanya.

“Apakah itu aku?” katanya tanpa menjawab pertanyaan Uriel.

“Ya itu kamu di tahun 1889.” jawab Uriel.

“Lima tahun yang lalu.” sambung Albert, lalu kembali memperhatikan ruangan berbentuk bola yang pertama yang berisi anak kecil yang ternyata adalah dirinya. “Jadi lima tahun yang lalu, ketika aku diculik seperti ini, Ayahku juga diculik?”

“Ya.” jawab Uriel tenang.

About Rian Tuanakotta
I have passion to build my hometown

One Response to Diculik Alien – Bagian 4

  1. Pingback: Diculik Alien – Bagian 3 « Rian Tuanakotta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: