Diculik Alien – Bagian 3

Sebelumnya, Bagian 2

Bulir keringat mengalir dari atas pelipisnya lalu kemudian terjatuh membasahi pipinya yang tegas. Donny menatap kedepannya, dan kemudian tertunduk lagi. Suasana begitu tegang ketika dia melakukan sesuatu yang penting, dan seseorang sedang duduk mengawasinya sep

erti dia akan berbuat curang. Akhirnya, baris terakhir dari pertanyaan berhasil diisinya.

Kemudian setelah berhasil menatap kedua mata yang terus mengawasinya itu, Donny berkata “Saya sudah selesai, Pak.”

Dan Pria yang mengenakan seragam dokter itu mendekatinya, menyuruhnya melepaskan kemejanya yang bermandikan keringat. Dan menempelkan stetoskop pada dadanya yang kekar. Sang Pria mengangguk-angguk sebentar lalu menyuruhnya membuka mulut, menjulurkan lidah, dan menerawang ke dalam tenggorokannya. Beberapa menit setelahnya, Donny keluar dari ruang pemeriksaan dan menghampiri temannya yang sedang menunggu diluar.

“Bagaimana?” tanya Albert penasaran

Donny tidak menjawab, hanya menampilkan wajah lesu seseorang yang tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. “Saya,” katanya perlahan “berhasil.” lanjutnya dengan suara keras dan langsung memeluk temannya Albert yang lebih kecil darinya.

Setelah kejadian yang menyenangkan itu, mereka berdua menghabiskan malam di rumah Donny dengan cerita semasa kecil mereka saat bersekolah bersama dulu. Kekonyolan demi kekonyolon disampaikan Albert dan Donny diantara canda tawa keluarga Faust, sampai di saat ketika, Donny menceritakan mengenai pengalaman Albert yang diculik alien saat mereka masih berada ditingkat dua. Albert menanggapinya dengan sangat malu karena dia merasa lucu pada dirinya sendiri yang begitu percaya dengan makhluk luar angkasa yang sering dieceritakan pamannya ketika dirinya. kecil.

“Ya, ya” Kata Albert memotong pembicaraan Donny. “Aku sempat terobsesi dengan makhluk asing, karena berulang-ulang kali pamanku menceritakannya padaku.” lalu disambut gelak tawa seluruh keluarga Faust.

“Eh, lalu bagaimana denganmu Albert?” tanya Ibunya Donny. “Kenapa kamu tidak mendaftar militer saja sama seperti Donny?”

“Oh, yang benar saja Bu. Lihat badannya yang kurus ini.” potong Donny sambil mengangkat tangan Albert.

“Em, tidak Ibu Faust, saya tidak tertarik dengan kemiliteran.” jawab Albert.

“Ya, si Jenius ini lebih tertarik dengan Iptek dan sebagainya.” tambah Donny sambil menepuk-nepuk pundak Albert.

“Ya, Saya akan menyusul orang tua saya dan melanjutkan kuliah di Politehnik di sana.”

Ibu Donny hanya mengangguk menunjukan tanda setuju dan kembali ke meja makan serta memanggil anaknya untuk membereskan meja makan yang baru saja mereka gunakan. Setelah mereka cukup menjauh, Albert menggulung sweaternya sebatas sikut dan mengamati berkas putih yang kini kian memudar diatas tangan kanannya.

Beberapa jam setelahnya, ruang tengah menjadi semakin sepi. Hanya tersisa Albert, Donny dan Martin adiknya Donny. “Hoam. Sepertinya aku sudah harus tidur.” kata Martin.

“Baiklah, kami juga akan segera tidur. Kamu naik saja duluan.”

Dan setelah mengucapkan selamat malam, Martin meninggalkan mereka berdua yang masih asik mengobrol. Tak lama kemudian mereka berdua pun akhirnya menuju kamar untuk mengistirahatkan diri mereka yang sudah berkeliling kota seharian.

Pada tengah malam, Albert saat semua orang sudah terlelap, Albert masih terjaga karena merasa gusar akan keberangkatannya besok. Albert membuka catatan-catatan sekolahnya, sekedar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian yang akan diselenggarakan Politehnik, kampus tujuannya. Dan pada malam itulah, kejadian beberapa tahun yang lalu berulang kembali. tiba-tiba saja alroji yang tergeletak disamping buku catatannya berputar dengan cepat, angin diluar jendela kamar Donny bertiup kencang dan terdengar lolongan anjing di kejauhan. Lalu, ledakan cahaya dari jalan raya menerangi kamar itu dalam sekejap.

Albert menyalakan pelita dan penerangan apapun yang didapatinya di atas meja, sehingga ruangan sangat terang kini. Donny dan Martin terbangun karena mendengar suara berisik yang diakibatkan Albert yang tengah panik. Kemudian ketika mereka berdua hendak berbicara, Albert memberi aba-aba agar mereka diam. Kemudian dia berjalan mendekati jendela diikuti oleh Donny dan Martin. Dia membuka sedikit tirainya agar dapat melihat keluar. Namun walaupun cahaya di jalanan kota malam itu cukup terang, mereka tidak bisa menemukan apapun.

Tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara pintu yang terbuka, yang segera membuat ketiganya berpaling ke belakang. Sesaat mereka menahan napas, menunggu apa yang akan keluar dari balik dinding, namun beberapa saat kemudian, tidak terjadi apapun. Memanfaatkan waktu tersebut, Martin berlutut kebawah tempat tidurnya dan mengambil dua pemukul bisbol yang salah satunya diberikan pada kakaknya. Mereka bertiga pun perlahan berjalan mendekati pintu sementara Albert menyambar sebuah wadah lilin dari atas meja. Ketika kini mereka berada di depan pintu, suara dehaman tiba-tiba terdengar dari arah jendela kamar. Kembali ketiganya berbalik dan tidak menemukan apa-apa disana.

“Apa itu?” kata Martin menunjuk pada sesuatu yang berjarak tiga meter dari mereka. Sedangkan Albert dan Donny terus mencari kesegalah arah dan tidak berhasil menemukan apa-apa.

“Itu, di depan jendela.” katanya lagi, “Sepertinya itu sebuah sosok yang tembus pandang.”

Dan benar saja, sesaat setelah menyelesaikan perkataanya. Sosok yang di tunjukkan Martin semkain lama semakin terlihat jelas. Tanpa aba-aba merekapun berteriak secara serempak, dan disusul suara debam keras diatas lantai kayu, Martin dan Donny pingsang di sebelah kanan Albert.

Tenggorokannya tercekat, Albert berdiri kaku, merasa mati akal dan tak tahu apa yang harus dia lakukan. Ketika terpikir untuk lari, sosok didepannya kini telah tampak sepenuhnya.

“Albert, tenang, kami tidak akan menyakitimu.” kata sosok hitam tersebut sebelum Albert jatuh pingsan

Lanjut ke, Bagian 4

About Rian Tuanakotta
I have passion to build my hometown

2 Responses to Diculik Alien – Bagian 3

  1. Pingback: Diculik Alien – Bagian 2 « Rian Tuanakotta

  2. Pingback: Diculik Alien – Bagian 4 « Rian Tuanakotta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: