Diculik Alien – Bagian 2

Sebelumnya, Bagian 1

operatingMalam itu sangat gelap, udara memang sedikit hangat. Karena pada waktu itu, desa tempat anak yang bernama Albert itu tumbuh, sedang mengalami musim panas. Dibalik dinding kamarnya, keringat membasahi sekujur tubuhnya yang sedang tertidur. Dia tampak gelisah dalam tidurnya yang kelihatan kacau itu.

Dan tak lama kemudian, seberkas cahaya yang sangat kuat menembusi tirai jendela kamarnya sehingga membuatnya terbangun. Dengan terhuyung-huyung dia mendekat jendela itu, setelah beberapa saat menyesuaikan matanya dengan cahaya yang berasal dari temeram di dalam rumah, dia tidak juga menemukan apapun di luar sana. Barker anjingnya, tiba-tiba saja menggonggong dan terdengar suara Ayahnya di lantai bawah rumahnya.

Rasa Aman yang tiba-tiba saja muncul memancing dirinya untuk memanggil Ayahnya. “Yah? Apakah itu Ayah?” beberapa saat dia menunggu namun tidak ada balasan yang terdengar di antara gonggongan Barker. Buru-buru dia mencari lilin di atas lacinya dan menyalakannya, setelahnya dia kini sudah berada di depan tangga menuju ruang tengah mereka.

“Ibu? Apa yang terjadi?” Albert mencoba menajamkan telinganya sesaat, namun kembali tidak ada jawaban yang terdengar. Barker semakin menggonggong keras sehingga membuat Albert tertarik untuk mengecek sendiri apa yang terjadi dibawah sana.

Sapuan cahaya lilin naik turun seiring gerakannya saat menuruni setiap anak tangga, mencoba mencari sesuatu di dalam kegelapan. Dan tepat ketika kakinya mencapai lantai bawah, suara Barker tiba-tiba saja menghilang tergantikan kesunyian yang sangat canggung. “Barker?” kini dia meneriaki anjingnya, lalu disusul meneriaki kembali Ayah dan Ibunya, dan seterusnya secara bergantian. Tiba-tiba sebuah tangan berbulu dari belakang membekapnya dan menempelkan sesuatu yang dingin di belakang lehernya sehingga membuatnya kehilangan kesadaran untuk sementara waktu.

Terdengar suara-suara aneh seperti mendecak-decakan lidah, namun Albert tidak mengerti apa yang sedang mereka katakan. Albert sedang menutup matanya, dan entah mengapa walaupun dia telah siuman, dia tidak dapat membuka matanya yang terasa sangat berat. Albert sangat yakin bahwa ruangan tempat dia berbaring pada saat itu dipenuhi cahaya seperti pada siang hari, tapi uap dingin yang entah berasal dari mana memberinya tanda bahwa dia tidak mungkin berada di bawah sinar matahari.

Albert berusaha keras untuk membuka matanya, dan usahanya pun akhirnya membuahkan hasil, cahaya yang sangat terang menyilaukan matanya. Dan dia bisa melihat di samping kanan dan kirinya beberapa sosok yang terlihat sangat buram sedang berlalu-lalang. Matanya kini terbuka, namun dia sama sekali tidak bisa memfokuskan penglihatannya, sehingga yang tampak hanya bayangan-bayangan buram baginya. Kemudian dia berusaha untuk menggerakan tangannya, namun tangannya tidak bisa bergerak karena terhalang sesuatu, dan langsung saja dia sadar bahwa dirinya sedang dalam posisi terikat penuh.

Lalu Albert merasakan sesuatu dimasukan ke dalam tangannya, sensasi dingin tiba-tiba saja menyusuri otot dan tulang-tulangnya di mulai dari tangannya. Lalu sesuatu terdengar di dalam kepalanya, seperti bunyi ketukan palu Ayahnya ketika sedang membetulkan atap rumah mereka, namun hal ini terjadi tepat di dalam kepalanya, dia berusaha bergerak, namun tangan-tangan besar dan berbulu yang muncul dari keburaman pandangannya dan memegang kepalanya dengan erat. Walaupun dalam keadaan setengah sadar, dia tahu bahwa makhluk-makhluk ini sedang mencungkil kepalanya. Dia berusaha merontak, namun semakin lama dia semakin kehilangan kendali atas dirinya dan akhirnya sepenuhnya tak sadarkan diri.

“Lalu aku terbangun tanpa merasakan sakit sedikitpun dikepalaku.” kata Albert mengakhiri ceritanya. “Aku tahu, kamu pasti mengira aku sedang bermimpi.”.

“Al, aku tahu kamu tidak gila.” kata Donny beberapa saat setelah mereka berdua pada akhirnya terdiam merenungkan cerita yang baru saja disampaikan Albert. “Tapi ceritamu itu terlihat seperti dikarang. Dan hanya orang gila yang akan mempercayainya.”

Albert menghentikan gerakan kakinya dan membiarkan temannya berlalu dalam sesaat. Dan ketika Donny hendak menoleh padanya yang tertinggal dibelakang, Albert pun mengangkat kepalanya menatap temannya tajam. “Jadi kamu bilang aku sudah gila? Lalu bagaimana kamu menjelaskan ini.” Albert menunjukan tangan kanannya yang berbercak putih.

“Sial.” bisik Donny ketika melihat sesosok pria besar muncul dibelakang Albert.

“Hey tikus lab.” kata Richard seraya menepakkan telapaknya yang besar ke atas pundak Albert yang kecil. “Kenapa kalian meninggalkan ku setelah bunyi bel?” Donny seketika itu juga mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri seperti biasa. “Jangan kau coba-coba, atau kuremukan temanmu ini.” Ancam Richard.

Bersamaan dengan berakhirnya kata terakhir dari kalimatnya, kedua tangannya yang besar dan kasar itu seraya mendorong punggung Albert sehingga menubruk Donny didepannya dan keduanya terjerambab jatuh. “Jangan main-main denganku.” kata Richard dengan wajah garangnya, lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang agak berantakan kini.

“Akan kubunuh dia ketika aku besar nanti.” kata Donny dengan nada serius sehingga membuat Albert yang sedang berusaha berdiri terlihat segan.

“Aku tahu kamu ingin sekali menjadi tentara, tapi apakah kamu serius dengan perkataanmu?” tanya Albert.

Pada mulanya Donny tersenyum, lalu disusul dengan gelak tawa yang membuat Albert menjadi tenang. “Tentu saja tidak” katanya santai. “Ngomong-ngomong, apakah kamu melihat seperti apa mereka?” kemudian Donny bersandar pada dinding disamping mereka.

“Ya sedikit.” jawab Albert. “Mereka sangat besar,” Albert kemudian berusaha menjinjit dan menunjuk-nunjuk di udara untuk menunjukan seberapa tinggi makhluk yang dilihatnya itu. “Sebesar itu.” Lanjutnya ketika dirasanya bahwa tinggi yang telah dicapai dengan ujung jari telunjuknya itu kurang lebih sudah pas dengan apa yang bisa dia ingat.

“Wow! lalu apakah kamu bisa mengerti apa yang mereka bicarakan? apakah mereka menggunakan bahasa kita, atau..”

“Tentu saja mereka tidak menggunakan bahasa kita.”

“O, Okay!” jawab Donny ragu-ragu, kemudian mengejar Albert yang berjalan meninggalkannya.

Lanjut ke, Bagian 3

About Rian Tuanakotta
I have passion to build my hometown

2 Responses to Diculik Alien – Bagian 2

  1. Pingback: Diculik Alien – Bagian 1 « Rian Tuanakotta

  2. Pingback: Diculik Alien – Bagian 3 « Rian Tuanakotta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: