Rainy Sunday – A Family Story

Willy mengintip bekas ruangan Sundie yang sekarang diisi oleh orang dari departemen lain, kemudian dia berjalan perlahan masuk tanpa diketahui pegawai barunya itu “Headlinenya apa hari ini?” kata Willy pada editor baru mereka. “Tabrakan beruntun kemarin yang menewaskan 4 orang di Kuningan, Pak” jawabnya ragu-ragu.

“Tik-tok-tik-tok…” suara jam dinding semakin terdengar saat malam semakin larut di atas kota Jakarta, namun Sundie tetap saja tidak menghiraukannya. Dalam keadaan kamarnya yang gelap, dan hanya diterangi cahaya dari layar komputernya, dia berusaha menyelesaikan baris terakhir sebuah narasi yang sedang dikerjakannya.

Tiba-tiba ketokan pintu yang terdengar halus menginterupsi konsentrasinya. “Ya?” jawabnya seketika. Tanpa ada jawaban balik, pintu kamarnya terbuka dan sesosok bayangan kecil menghampirinya sambil menyeret selimut ditangan kanannya. “Ma, aku mau tidur sama mama.” Kata putera kecilnya. “Boleh sayang,” balas Sundie sambil menepuk-nepuk kasur di sampingnya, “sini!”.

***

“Tik-tok-tik-tok…” waktu sudah mencapai pukul enam, sore itu. Tetapi pekerjaanya sebagai seorang editor masih menumpuk. “What a busy day?” katanya dalam hati. “Mana besok deadline lagi.” lanjutnya. “Sundie, saya duluan yah.” kata teman sekerjanya yang melangkah pergi. “Okay!” jawab sundie tanpa memalingkan matanya dari sekotak layar didepannya.

Perlahan tapi pasti, suasana kantor menjadi sepi, dan walaupun berusaha untuk tidak menghiraukannya, Sundie tetap merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Karena setiap detak jam dinding yang berbunyi, bagaikan pemberitahuan padanya bahwa putra kecilnya sedang menunggu dirinya pulang.

Beberapa detik setelah memutuskan dia akan melanjutkan pekerjaannya di rumah, Willy yang adalah bosnya masuk dan menyapanya dengan suara sopan yang dibuat-buat. “Selamat malam Ibu editor, kenapa belum pulang?” Willy melangkah mendekat padanya.

Sundie hanya memberi senyuman sekilas tanpa membalas tatapan mata Willy. “Ada apa, Bapak kepala bagian?” sindirnya tanpa menghiraukan pertanyaan Willy.

“Tidak, hanya saja,” kemudian Willy melangkah lebih dekat.

***

“Tok-tok-” Sundie mematung dibelakang meja, napasnya berhenti dan seakan tidak ingin mendengar bunyi palu terakhir diketukan hakim. “-tok!” dan putusan telah dijatuhkan. Sundie tertunduk lemas, seluruh kekuatannya tiba-tiba hilang bahkan untuk menyangga tubuhnya. Dia tidak mampu berdiri, lalu hatinya yang pahit kemudian memaksanya untuk menangis.

Setelah ketukan ketiga terdengar, semua orang yang duduk cukup jauh dari meja menepukan tangannya. “Sunday Amirta Chandra dan William Leonard Wijaya,” sebuah suara di depan mereka berkata, “kalian sekarang resmi sebagai pasangan suami istri.” kemudian tepukan tangan disekeliling mereka menjadi semakin riuh.

Dan sebuah tangan terasa mencapai pundaknya. Sandie tersadar dan melihat ke sampingnya. Pengacaranya berdiri disampingnya dan tidak mengatakan apa-apa.

***

“Tet-tet-tet,” getaran itu berasal dari dalam tasnya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mencari dan menemukan telepon genggamnya yang sedang bergetar di dalam tas itu. Sebuah suara dengan ragu-ragu memulai pembiacaraan. “Saya minta maaf, Bu. Saya sudah berjuang sebisa saya.”

“Tidak apa-apa, mungkin ini memang sudah takdir saya, toh saya masih bisa ketemu dengan Rian.” kata Sundie dengan cukup tenang.

“Tapi kita masih bisa mengajukan ban-”

“Tidak usah,” Sundie memotong. “Saya rela kok hak asuh jatuh kapada Willy,” kemudian suaranya terdengar sedikit bergetar, “Mungkin Tuhan lebih mempercayai dia merawat anak saya, ketimbang saya sendiri.”

“Baik Bu, saya mengerti. Sampai bertemu besok di kantor.”

“Okay.” Kemudian dia memutuskan sambungannya. Menatap komputernya dengan wajah yang tidak bersemangat dan tenggelam dalam aktifitas baru dirumah bujangannya.

***

“Pagi ma.” Kata Rian yang masih terlihat berantakan.

“Makan dulu sarapannya sayang, itu diatas meja.” tunjuk Sundie dengan pisau makan.

Rian langsung terburu-buru menuju meja makan didapur mereka yang terang-benderang dipenuhi dengan sinar matahari lalu menyantap roti yang kini berada di depannya. “Yah… kok selai kacang sih ma?” katanya setelah mengunyah satu gigitan roti.

Jidat Sundie berkerut, “Masa?” buru-buru dia menghampiri tempat duduk Rian. “Sorry sayang,” sesalnya setelah melihat isi dari roti yang dibuatnya tadi. “Nanti mama bikinin yang baru yah.” katanya menawarkan.

Tampak kecewa, kepala Rian hanya menggeleng-geleng tanda tidak setuju, “Sebentar lagi papa jemput. Aku ga mau terlambat.” katanya seraya meninggalkan meja makan sambil membawa sisa makanannya di dalam tangannya.

“Jangan lupa gosok gigi ya sayang!” teriak Sundie pada puteranya yang semakin menjauh dari hadapannya.

***

“Sundie, tunggu!” kata Willy seraya mencengkram tangan Sundie. “Kita masih bisa memperbaikinya.” kata Willy dengan sungguh-sungguh.

“Putusan sudah dijatuhkan Willy.” balas Sundie. “Kita bukan suami istri lagi.”

Tanpa diduga Sundie, Seketika itu juga Willy menciumnya. Sundie yang tadinya tidak kuasa menahan pelukan Willy, mendorongnya menjauh lalu menamparnya.

Willy terpaku, mantan istrinya kini menjadi sangat dingin kepadanya. Dia sadar mereka bukan lagi suami-istri yang bisa lebih menikmati sebuah pelukan dan ciuman. “Kenapa?” hanya sebuah kata yang mampu diutarakanya.

Sundie tidak menjawab, namun menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya sambil tertunduk sedih. Airmatanya yang terasa hangat mulai membasahi pipinya, entah merasa sedih atau sebaliknya. Karena tidak ingin terlihat lemah dihadapan Willy, dia kemudian cepat-cepat mengelapnya.

“Kenapa?” tanya Willy sekali lagi dengan suara yang melemah.

Mendengar pertanyaan yang sama, amarah Sundie mulai meninggi. Seraya dia mengangkat wajahnya, dadanya menjadi panas dan dia mulai kehilangan kontrol atas emosinya. “Kenapa?” katanya mengulang. “Kenapa katamu?” napasnya kian tidak beraturan “KARENA KAMU LAKI-LAKI BAJINGAN!” teriaknya dengan sekuat tenaga. Tak kuat menahan amarah, Sundie menangis sejadi-jadinya.

Willy mencoba menenangkannya, namun tangannya ditepis Sundie.

Setelah yakin telah menenangkan dirinya sendiri, Sundie kemudian angkat bicara “Aku mau pulang, Rian aku titipkan dengan Lisa, anak tetanggaku.” katanya tanpa menatap mata Willy sekali lagi.

“Dia lebih suka selai strawberry.” kata Willy ketika Sundie berjalan meninggalkannya.

***

“LALU APA MAKSUDNYA INI?” teriak Sundie sambil menunjukan gambar yang terekam dalam telepon genggamnya.

“Tapi aku di jebak.” jawab Willy singkat

Karena kesal, sekuat tenaga Sundie melemparkan telepon genggamnya ke arah Willy, namun Willy bisa menghindarinya. Dan telepon genggam itu pecah berantakan ketika terbentur tembok di belakang Willy. “Mana mungkin? Ini bukan yang pertama kalinya. Dan bukan wanita yang pertama.” balas Sundie.

“Sayang..” Willy mulai memelankan suaranya.

“Akkhhh….” Sundie membantah, “Aku sudah tidak tahan dengan kelakuan kamu.”

Tiba-tiba suara tangisan yang bukan berasal dari mereka, menginterupsi pertengkaran itu. “Lihat!” teriak Willy, “apa yang akan kita bilang pada Rian?” Kemudian Willy mencengkram kedua tangan istrinya. “Setiap hari selalu saja membuat masalah.” katanya sambil menatap tajam kedua mata Sundie seperti biasa. “Bukannya ini semua karena kelakuan kamu? Setiap aku pulang kantor, kamu tidak pernah ada di rumah? Rian kamu tinggalkan dengan pembantu, semantara kamu bersenang-senang bersama teman-teman kamu.”

Seketika itu juga Sundie meludah tepat mengenai wajah Willy. Willy yang kesal, kemudian menamparnya hingga dirinya terjatuh membentur kursi.

***

“Saya harus kembali bekerja Pak,” Kata Sundie kepada pengacaranya.

“Ya, ya.” jawab sang pengacara sambil mengangguk pelan. “Tapi bagaimana dengan anak Ibu?”

matanya yang tipis terlihat serius dibalik kacamatanya yang tebal. “Bukannya saat kunjungan diputuskan pada hari kerja?”

“Ya saya tahu,” jawab Sundie. “Willy mungkin tidak mau saya bekerja lagi, sehingga dia menyetel hari kunjungan Rian pada hari kerja. Tapi tentu saja,” kemudian dia tertunduk. “Saya tidak mau menggunakan uang yang diberikannya. Saya ingin benar-benar lepas darinya Pak.”

“Ya, ya.” jawab sang pengacara sekali lagi.

“Setelah pulang sekolah, dia akan menunggu saya di rumah teman saya.”

“Memangnya anda sudah mendapatkan pekerjaan?” tanya sang pengacara

“Ya, sudah.”

“Secepat ini?” kemudian sang pengacara membelalakan matanya yang tipis itu. “Baru kemarin padahal kalian resmi bercerai.”

“Saya sudah memikirkannya jauh-jauh hari sebelum hari dimana sidang dimulai Pak.”

“Ya, ya.” kata sang pengacara itu lalu kembali bersandar ke sandaran kursinya yang lebar, “Lalu jam berapa anda akan pulang kerja?”

“Jam 5 setiap hari.” jawab Sundie.

“Baiklah, saya akan mengusahakannya agar kunjungan dua hari seminggu tidak dicabut walaupun anda memilih untuk bekerja lagi.”

Dengan wajah bahagia Sundie menyambut pernyataan pengacaranya.

***

Sundie melihat jam pada pergelangan tangannya yang kini sudah mencapai pukul delapan malam. “Tidak bisa lebih cepat Pak?” tanya Sundie pada supir taksi.

“Wah, sudah paling cepat nih Bu. Sepertinya ada kecelakan di daerah Kuningan tadi.”
“Pantas saja macet.” batin Sundie. “Apa Rian nanti marah ya? Ah, tidak-tidak.” kemudian mengeleng-gelengkan kepalanya. “Aku sudah memberitahukan Lisa tadi bahwa aku akan pulang terlambat. Mudah-mudahan saja Rian masih asik bermain bersama Ali. Coba aku telepon lagi, mungkin dia sudah selesai bermain.” Kemudian pundaknya terturun lemas ketika melihat telepon genggamnya yang sudah mati total. “Sial!” kesalnya. “Pak, punya charger telepon genggam?” tanyanya pada supir taksi.

“Ada Bu,” lalu sang supir taksi merogoh dashboard mobil dan mengeluarkan chargernya.

Sundie menerima charger itu dan segera menghubungkannya ke telepon genggam miliknya. Sesaat setelah charger terhubung, 1 pesan masuk dan 10 panggilan tak terjawab terpampang di layar teleponnya. Ketika melihat nomor sang penelopon dia sempat terkejut karena 8 dari 10 panggilan tak terjawab itu adalah nomor telepon mantan suaminya. Dan dengan setengah hati dia pun membuka pesan dari suaminya yang tadinya akan dihapusnya.

Mobil keluarga Lisa kecelakaan, ada Rian di dalamnya. Saya tdk tahu keadaan mereka sekarang. Mereka Sekarang berada di RS. Metropolitan Medical Center, Kuningan.”

Setelah membaca pesan tersebut, seluruh persendian Sundie terasa melemah, dia seperti akan pingsan, namun dirinya tetap berusaha untuk berpikir secara positif. “Pak supir, tolong ke RS. MMC, Kuningan ya Pak!” Kemudian sang supir keluar dari jalan Tol dan membelokan kemudinya ke arah kuningan. Saat taksi berhenti di depan Rumah Sakit, Sundie buru-buru mencabut telepon genggamnya dan hendak keluar dari dalam taksi ketika suara dari radio mencuri perhatiannya.

Sebuah kecelakaan terjadi beberapa menit lalu di kawasan Tol kuningan, dipastikan tidak ada korban selamat dari mobil yang menyermpet dinding jal-”

Kemudian seperti ditelan bumi. Tiba-tiba pijakan Sundie menjadi hilang dan kegelapan menyelimuti dirinya yang jatuh kedalam perut bumi. Dia Pingsan.

***

“Headlinenya apa hari ini?” kata Willy pada editor baru mereka.

“Tabrakan beruntun kemarin yang menewaskan 4 orang di Kuningan, Pak” jawabnya ragu-ragu.

“O iya, ada 5 mobil dalam kecelakaan itu ya?” tanya Willy lagi.

Editornya tersenyum “8 Pak, yang meninggal hanya penumpang mobil pertama.” Kemudian dengan tidak ragu-ragu dia bertanya. “Bukanya anak anda berada dalam salah satu mobil itu Pak?”

“Ya.” Jawab Willy dengan gembira.

***

“Ouch, sakit ma!” kata Rian.

“Kamu kan sudah besar, masa segitu sakit?” tanya Sundie sambil tersenyum.

“Iya tuh betul kata mama.” tambah Willy, “minggu depan kan kamu sudah 7 tahun.”

“Ih… papa sama mama sama aja. Ga ada yang mau belain aku.”

“hehehehe…” kemudian Sundie dan Willy tertawa bersamaan. Dan setelah mengganti perban di sikut dan jidat Rian, Sundie berdiri meninggalkannya bermain dengan Ali, adik dari Lisa.

“Rian sudah tambah besar,” kata Willy membuka pembicaraan sementara Sundie hanya mengangguk sebagai tanda setuju. “Berarti kita sudah setahun bercerai.”

“Ya, semua seperti mimpi buruk yang hanya terjadi pada suatu malam. Dan ketika kamu terbangun” dan Sundie menggerakan tangannya seperti menirukan sebuah ledakan. “Pow, semuanya lenyap.” Kemudian dia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya “Ya, aku kira aku akan kehilangannya.”

“Ya, aku juga.” Lalu tangan Willy memluk pundak Sundie sambil memperhatikan anaknya yang sedang bermain dengan gembira.

“Kejadian ini mudah-mudahan menjadi sebuah hikmat bagi kita berdua.” kata Sundie yang membalas memeluk pinggang Willy sambil melihat anaknya bermain.

“Ya, istriku.” kemudian Willy mencium jidat Sundie tanpa sepengetahuan anak-anak dihalaman depan rumah mereka.

Sundie akhirnya memluknya dengan semakin erat. “Tabrakan itu membuatku sadar betapa berharganya anak kita.”

“Ya dan membuatku sadar betapa berharganya istriku.”

About Rian Tuanakotta
I have passion to build my hometown

One Response to Rainy Sunday – A Family Story

  1. Woody Noya Nusale says:

    Unbelievable……….(*o*).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: